Uncategorized

Laskar Pelangi SDIT Insan Mandiri

June 14, 2010

Pernah melihat film Laskar pelangi? Jika Anda mengikuti, film ini berkisah tentang anak-anak yang memiliki semangat untuk terus belajar. Walaupun media belajar dan sekolah yang kurang layak, mereka tak gentar menempuh impian mereka dengan motivasi Sang guru : Bu Muslimah.

Ya, sosok Bu Mus (sapaan Bu Muslimah dalam film tersebut) adalah sosok ideal guru yang tidak pantang menyerah membimbing anak didiknya menggapai impian. Bu Mus memanggil anak-anaknya dengan Laskar Pelangi. Kita bisa melihat Pelangi dengan warna-warni yang indah. Mejikuhibiniu…! Itulah keunikan pelangi.

Bagi anak, keunikan satu sama lain sebenarnya sangat jelas terlihat. termasuk kecerdasan mereka. Satu sama lain berbeda. Dan setiap anak memiliki kecerdaan dan potensinya masing-masing.

Bagi SDIT Insan Mandiri Jakarta, guru sangat berperan menstimulasi kecerdasan murid-muridnya. Sebagai gambaran berikut cuplikan keunikkan mereka. Bisa dilihat di sini.


Pertolongan Allah di Gaza

June 10, 2010
Anak-anak Palestina, 'Allah bersama kalian' jangan takut....!

Anak-anak Palestina, 'Allah bersama kalian' jangan takut....!

Gaza, itulah nama hamparan tanah yang luasnya tidak lebih dari 360 km persegi. Berada di Palestina Selatan, “terjepit” di antara tanah yang dikuasai penjajah Zionis Israel, Mesir, dan laut Mediterania, serta dikepung dengan tembok di sepanjang daratannya.

Sudah lama Israel “bernafsu” menguasai wilayah ini. Namun, jangankan menguasai, untuk bisa masuk ke dalamnya saja Israel sangat kesulitan.

Sudah banyak cara yang mereka lakukan untuk menundukkan kota kecil ini. Blokade rapat yang membuat rakyat Gaza kesulitan memperoleh bahan makanan, obat-obatan, dan energi, telah dilakukan sejak 2006 hingga kini. Namun, penduduk Gaza tetap bertahan, bahkan perlawanan Gaza atas penjajahan Zionis semakin menguat.

Akhirnya Israel melakukan serangan “habis-habisan” ke wilayah ini sejak 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009. Mereka”mengguyurkan” ratusan ton bom dan mengerahkan semua kekuatan hingga pasukan cadangannya.

Namun, sekali lagi, negara yang tergolong memiliki militer terkuat di dunia ini harus mundur dari Gaza.

Di atas kertas, kemampuan senjata AK 47, roket anti tank RPG, ranjau, serta beberapa jenis roket buatan lokal yang biasa dipakai para mujahidin Palestina, tidak akan mampu menghadapi pasukan Israel yang didukung tank Merkava yang dikenal terhebat di dunia. Apalagi menghadapi pesawat tempur canggih F-16, heli tempur Apache, serta ribuan ton “bom canggih” buatan Amerika Serikat.

Akan tetapi di sana ada “kekuatan lain” yang membuat para mujahidin mampu membuat “kaum penjajah” itu hengkang dari Gaza dengan muka tertunduk, walau hanya dengan berbekal senjata-senjata “kuno”.

Itulah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada para pejuangnya yang taat dan ikhlas. Kisah tentang munculnya “pasukan lain” yang ikut bertempur bersama para mujahidin, semerbak harum jasad para syuhada, serta beberapa peristiwa “aneh” lainnya selama pertempuran, telah beredar di kalangan masyarakat Gaza, ditulis para jurnahs, bahkan disiarkan para khatib Palestina di khutbah-khutbah Jumat mereka.


Kelas 6 Menurutku….

June 7, 2010

Syukur Alhamdulillah, kita panjatkan kehadirat Allah SWT Robb semesta alam. Salam dan sholawat semoga Allah SWT limpahkan kepada teladan kita, Nabiullah Muhamad SAW beserta keluarga, sahabat dan pengikutnya yang senantiasa komitmen meneruskan perjuangannya.

Sangat bersyukur, saya bisa bergabung dengan keluarga besar SDIT Insan Mandiri Jakarta, sekolahnya para Juara dan selalu Sayang Teman, Sekolah idaman, efektif dan bermutu. Sebagai pendatang baru di sekolah ini, tentunya saya masih banyak belajar dan beradaptasi dengan segala kebiasaan dan budaya yang ada di lingkungan sekolah ini dengan segala kelebihan dan prestasinya.

Di sekolahnya para juara & sayang teman in, saya diberikan amanah untuk menjadi Asisten Guru Kelas 6, kelas yang sebentar lagi akan menyelesaikan tugas belajarnya di sekolahan ini dan meneruskan ke jenjang berikutnya. Belum lama saya berinteraksi dengan anak-anak siswa SD 6, tetapi sekilas terlihat wajah-wajah yang menunjukkan kebaikan dan kesholehan pada dirinya. Suatu kebahagiaan awal tersendiri melihat suasana seperti ini.

Semakin lama berinteraksi dengan anak-anak SD 6, semakin nyata kutemukan sejuta potensi yang terdapat pada diri anak-anakku semua. Cuma permasalahnnya, bagaimana nanti kita yang akan mengolah dan mengembangkan segala potensi dan kelebihannya. Memang tidak mudah dan sesederhana seperti  membalikkan telapak tangan kita, tetapi dengan usaha-usaha dan kerja keras bersama antara pihak sekolah(Guru) dan Orangtua insya’ Allah mereka semua akan berkembang sesuai dengan potensinya. (Rohmat)


Undangan Wisuda & Pentas Seni

June 7, 2010

Kami mengundang kepada seluruh Orangtua murid SDIT Insan Mandiri untuk menghadiri ‘WISUDA ANGKATAN III  & PENTAS SENI’ dengan tema ‘CINTA INDONESIA‘ yang akan dilaksanakan pada : Hari/Tanggal: Sabtu, 19 Juni 2010; Waktu: Jam 07.00 – 12.00 WIB; Tempat: Gedung Astagina, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan

SUSUNAN ACARA

07.00 – 07.30  Registrasi Undangan

07.30 – 08.00  Pra Acara

08.00 – 10.00 Prosesi Wisuda

10.00 – 11.00  Pentas Seni

01.00 – 12.00  Pembagian Raport

  • Para Undangan diminta kesediaannya memakai Pakaian Batik.
  • Demi menjaga kelancaran & kehikmadan acara prosesi wisuda, dimohon tidak membawa anak balita ke dalam ruang wisuda.

Kesanku sebagai Guru di SDIT Insan Mandiri (Catatan perjalanan Guru baru)

June 6, 2010

Genap 2 tahun sudah aku bergabung dengan SDIT Insan Mandiri. Waktu yang relatif cepat menurutku dengan berbagai kesan yang begitu berarti bagi seorang guru sepertiku. Pengalaman, belajar, bekerja, membangun kebersamaan, mengembangkan ruhiyah keislaman dan segudang aktifitas kujalankan dengan penuh catatan. Ya, Allah semoga Engkau membimbing dan senantiasa memberikan semangat padaku….

Bulan pertama aku ‘menjejakkan kaki’ di SDIT Insan Mandiri ini, langsung didaulat memimpin tiga proyek sekaligus: Mempersiapkan Akreditasi sekolah, Memimpin penerbitan buku dan Menjadi Ketua Acara Wisuda Kelas 6. Ketiga kegiatan tersebut adalah yang pertama kali buat SDIT Insan Mandiri. Jadilah aku mesti berinovasi, mencari kreatifitas dengan modal ‘Biiznillah’. Ya Allah, ini adalah ujian pertamaku yang harus ditempuh sebagai orang baru di SDIT Insan Mandiri. Istilah teman-teman guru ‘digojlok’ dulu.

Awalnya aku tak yakin mampu, namun mendapat motivasi pimpinan dan rekan guru aku berani untuk mencobanya. Alhamdulillah, ketiga aktifitas tersebut mampu aku jalankan dengan baik. Akreditasi A dengan nilai fantastis 98.20 mampu diraih oleh SDIT Insan Mandiri. Memang, semua aspek positif di sekolah ini telah terlihat di benakku bahkan sebelum aku bergabung. Pantas Alllah berkenan memberikan kedudukan yang hebat untuk sekolah hebat ini.

Proyekku yang kedua, sebagai kordinator penerbitan buku-buku juga relatif berhasil. Alhamdulillah, kami berhasil mengumpulkan buku-buku yang akan dicetak ke penerbit. Semua judul buku dapat diselesaikan sesuai deadline. Bonus uang buku  pertama dapat kami rasakan juga. Namun, sayang pihak penerbit tidak komitmen. Mereka memutuskan sepihak proyek ini dengan alasan yang kurang jelas. Wallahu a’lam. Semoga Allah Swt tetap memberikan hikmah dibalik ini.

Yang Ketiga, aku memimpin acara Wisuda Pertama yang digelar SDIT Insan Mandiri. Acara yang cukup menguras pikiran, tenaga dan waktu. Tapi semua itu hilang dan berubah menjadi kegembiraan tatkala acara berjalan lancar dan sukses.

Alhamdulillah aku lulus ‘gojlokan’ sebagai guru baru di SDIT Insan Mandiri. Terima kasih ya Allah….

Sebenarnya ada beberapa hal yang menjadi catatanku, mengapa SDIT Insan Mandiri menjadi begitu mewarnai kehidupanku:

  • Kebersamaan para guru. Ya, ini yang sangat spesial buatku. Begitu banyak potensi, kearifan, penyemangat, sahabat yang berada di sekelilingku. Mereka guru-guru hebat. Mereka guru kreatif, inovatif, pembelajar sejati. Aku bisa melihat sosok Pak Karim yang santun, Pak Ja’far yang tegas dalam masalah Syar’i (Nah, Ustadz yang satu ini kini di Aceh. Beliau sangat membekas di hatiku). Pak Zakky, guru yang dekat dengan anak-anak, tegas dan berwibawa (Semoga antum tetap sukses memimpin Pesantren di Sukabumi..). Guru-guru ikhwan yang kompak, guru-guru akhwat yang kreatif. Subhanallah. Perfectly! Ya Allah berikan keberkahan hidup pada mereka, sesungguhnya mereka adalah prajurit-prajuritmu yang ikhlas…!
  • Teladan Pemimpin. Beberapa pemimpin yang aku kenal, pemimpin di SDIT Insan Mandiri sangat mampu menjadi teladan. Ini yang akhirnya mampu membuatku sebagai bawahannya banyak belajar, mencontoh dan semangat yang tak kunjung padam.
  • Ruhiyah yang terbangun. Ruh yang terus tumbuh di lingkungan yang subur mewarnai aktifitasku. Aku menyadari bahwa aku bukan bekerja untuk siapa-siapa kecuali Allah. Oleh karenanya aku harus memberikan yang terbaik untuk Allah.
  • Anak-anak yang Smart, jujur dan polos. Mereka adalah motivatorku. Yang akan mempertajam semua potensi yang kumiliki. Terima kasih murid-muridku…..

Beberapa hal lain juga mewarnai aktifitasku di sini. Namun aku berupaya mengambil hikmah, pelajaran dan membangun semangat baru. Teman-teman guru, maafkan atas segala kekurangan yang saya miliki, segala keterbatasan saya, kekhilafan dan kekerdilan prilaku yang saya tunjukkan. Pak Karim & Bu Heni, terima kasih telah menjadi motivator saya, penguat hati dikala galau. Jazakumullah Khoirn. Maafkan atas segala amanah yang belum terlaksana. Bimbing saya terus….! Allahhumma ya muqallibal quluub. Tsabbit qalbi ala diinika…. (Abdulhakim, guru komputer SDIT Insan Mandiri).


Kembalikan Fungsi Masjid

June 5, 2010

Seorang pakar islam kontemporer Syeikh Said Hawa pernah mengatakan; Inna ’ashrana hadza mamlu-un bi Asy Syahawati wa asy-Syubuhati wa Al Ghoflah (Sesungguhnya kurun kita ini diliputi oleh suasana yang mengundang nafsu syahwat, kerancuan terhadap kebenaran dan melalaikan kehidupan akhirat).  Menurut beliau, benteng pertahanan terakhir ummat dalam memagari jati dirinya dari kontaminasi polusi zaman adalah keluarga dan masjid.

Kesederhanaan manajeman Nabi dalam mengelola masjid telihat antara lain sewaktu beliau shalat, usai shalat beliau selalu menghadap jamaah untuk mengecek barangkali ada sebagian jamaah yang berhalangan hadir. Pada suatu ketika salah seorang jamaah inti tidak hadir dalam shalat, beliau bertanya , Mana si Fulan ?. Salah seorang makmum menjawab, si Fulan sedang sakit. Kemudian beliau mengunjungi Fulan di rumahnya. Itu menunjukkan bahwa Rasulullah Saw, sangat perhatian kepada jamaahnya. Perbuatan beliau sejatinya diteladani pengurus dan imam masjid.

Selesai shalat Jumat, dari atas mimbar Rasulullah Saw, selalu menanyakan jamaahnya, Siapakah yang hari ini ada kesulitan atau kekurangan ? Apabila ada yang mengangkat tangannya (sebagai tanda jamaah itu sedang dalam kesulitan atau kekurangan), Nabi memintanya untuk menjelaskan kesulitan yang dihadapinya dan kemudian beliau bertanya lagi, “Apakah diantara jamaah yang telah hadir diberi keluasan rizki oleh Allah ?”.

Begitulah cara Nabi. Sehingga yang mempunyai kelebihan dapat meringankan beban yang kesulitan. Jika cara ini diterapkan maka problematika kemiskinan ummat setiap minggu akan bisa dipecahkan. Betapa efektif masjid-masjid di tanah air yang jumlahnya ratusan ribu dalam mengantisipasi krisis ummat jika menerapkan manajemen sederhana Rasulullah saw, tersebut. Dan semestinya ummat islam yang merupakan bagian terbesar bangsa ini akan hidup sejahtera dan damai.

Kurang Multi Fungsi

Krisis multidimensional yang terjadi sekarang ini menyebabkan citra Indonesia di dalam negeri dan di mata dunia internasional semakin terpuruk. Bangsa Indonesia yang selama ini dikenal religius, memiliki budaya pemaaf, paternalistik, toleran (tepo sliro, Jawa), gotong royong menjadi kejam dan koruptor. Bangsa Indonesia jika menduduki posisi tertentu cenderung memperkaya diri, berfikir jangka pendek, kata Prof. Toshiko Komoshita, intlektual Jepang. Indonesia adalah sarang penyamun berdasi, lahan subur KKN mulai tingkat pejabat eksekutif pusat hingga jajaran birokrasi tingkat RT (hasil surve lembaga Non Government Organization dari Jerman, diterbitkan lewat majalah der Spiegel).

Stateman pakar asing dan hasil survey intitusi luar negeri yang tidak menguntungkan diatas tentu mengarah kepada ummat islam yang merupakan mayoritas bangsa Indonesia. Untuk sementara penulis berkesimpulan, bahwa keterpurukan ummat disebabkan oleh beberapa point berikut;

Pertama : Ada kecenderungan ummat Islam tidak mengamalkan Al-Quran dan As Sunnah secara murni dan konsekuen. Mereka sering tidak melibatkan Tuhan dalam pengambilan keputusan penting. Baik menyangkut persoalan individu, keluarga dan masyarakat (QS. Thaha : 124).

Mengomentari ayat ini Ibnu Katsir berkata; “Barangsiapa yang berpaling dari ketetapan Allah dan atau sengaja melupakannya, akan menemui kehidupan yang serba sulit (ma’isyatan dhonkan), tidak merasakan ketenangan dan kelapangan dada disebabkan kesesatannya, sekalipun secara lahiriyah sejahtera, bisa berpakaian, bertempat tinggal, makan sesuka hatinya. Tetapi jiwanya goncang, bingung dan diliputi keragu-raguan.” (Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir II, hal. 479).

Kedua; Ummat Islam meyakini bahwa Rasulullah Saw sebagai figur sentral terbaik, tetapi mereka meneladaninya (ta-assi) hanya dalam mulut dan tidak diimplementasikan dalam perilaku sehari-hari di tempat kerja, kantor, sekolah, pasar atau di tempat yang lain. Sekalipun secara serimonial, dan upacara peringatan maulid ummat islam melakukannya secara serempak dan gegap gempita, tetapi keagungan pribadi (syakhshiyyah) Rasulullah masih belum sepenuhnya di teladani. Kaya dalam upacara, tetapi miskin dalam aplikasi. Untuk mengantisipasi kondisi diatas, ummat Islam memiliki tanggungjawab moral membantu negara keluar dari hal-hal paradoksal.

Lihatlah jumlah jamaah shalat lima waktu terutama shubuh, belum lagi dengan pakaian yang berwarna-warni, diperparah dengan shaf (barisan shalat) yang tidak rapi. Apalagi jika kita mencermati kualitas komunikasi yang dibangun antara jamaah usai menunaikan shalat, sungguh masih belum berjalan sesuai harapan.  Dari sini bisa dievalusi betapa kualitas ummat dalam meneladani Rasulullah Saw ketika di masjid masih jauh ketinggalan.

Pada zaman Nabi Muhammad Saw, masjid memiliki multifungsi. Maka ketika beliau hijrah ke Madinah pertama kali yang didirikan adalah masjid. Selain sebagai tempat ibadah, juga menimba ilmu, tempat mempersaudarkan (taakhi) suku yang saling bermusuhan selama berabad-abad, tempat berbagi sesama, penggalian dana dan pendistribusiannya, tempat penggemblengan calon pemimpin (kawah condrodimuko), tempat bermusyawarah dan tempat mewujudkan kesejahteraan bersama.

Oleh karena itu tugas imam shalat tidak sekedar memimpin shalat jamaah, tetapi mendidik, mengayomi dan mengarahkan ummat dalam segala aspek kehidupannya. Maka, seorang imam dan jamaah inti adalah orang yang dapat dipercaya dan terbaik (level inti) dari ummat. Imam  masjid dituntut memiliki kemampuan manajerial yang tinggi dan memiliki komitmen untuk mengurbankan tenaga dan waktunya untuk memakmurkan masjid. Dengan standar demikian, dia mampu melaksanakan tanggungjawabnya  dengan sebaik-baiknya. (QS. at- Taubah (9) : 17).

Makmurkanlah Masjid-masjid

Memakmurkan masjid  berarti membangun, memperkuat bangunannya dan memperbaiki bagian-bagian yang rusak (secara material), dan memakmurkannya dalam aspek immaterial (moril), mendirikan shalat, berdz

ikir, mencari ilmu dan aktifitas ibadah lain yang merupakan tujuan utama didirikannya. (QS. an-Nur : 36), (Tafsir al-Ahkam, Ali Ash Shobuni II). Abu Bakar Al Jashshash mengatakan, memakmurkan masjid itu mengandung dua pengertian yaitu : Berkunjung dan berdiam di masjid. Membangun dan memperbaiki bagian-bagian yang rusak. I’tamaro yang berarti ziarah, berkunjung. Misalnya kata ‘umrah, berarti ziarah ke Baitullah. (Ahkamul Quran, Al Jashshash, II : 87). “Barangsiapa yang mencintai masjid, maka Allah mencintainya,” [HR. Thabrani].

“Barangsiapa yang mendirikan masjid karena Allah sekalipun sebesar sarang burung, maka Allah akan mendirikan sebuah rumah untuknya di surga.” [HR. Ahmad dan Ibnu Majah].

Secara jujur dan obyektif kita mengakui betapa masjid-masjid di tanah air mengalami kemandekan. Belum memainkan fungsi dan peranannya secara maksimal. Masjid tidak berdaya mengatasi problematika sosial kemasyarakatan. Orang meminta-minta di sekitar masjid, anak-anak jalanan, kenakalan remaja, belum bisa diantisipasi secara signifikan. Betapa keteladanan Rasulullah Saw, di masjid yang mempunyai kandungan manajeman tingkat tinggi, baru sebatas sebagai bahan diskusi, seminar dan forum-forum ilmiah. Salah satu fungsi masjid sebagai baitul mal, belum bisa diwujudkan, sehingga para pengemis di sekitarnya semakin meningkat jumlahnya. Sangat kontradiktif dengan bangunan phisik masjid yang megah, dengan pemandangan manusia yang berpakaian compang camping di sekelilingnya.

Keindahan bangunannya tidak diimbangi dengan kesejahteraan dan kemakmuran jamaahnya.

Beberapa ormas Islam pernah mengusung “Gerakan back to masjid”.  Hidayatullah beberapa  pernah meluncurkan 1.000 dai di seluruh kabupaten dan propinsi di Indonesia  perlu mendapatkan perhatian yang memadai dari pemerintah dan berbagai elemen bangsa, khususnya ummat Islam. Sebagai usaha mengentaskan krisis multidimensional yang menjerat bangsa. Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) juga meluncurkan program dai-dai pasca-sarjana dan doctoral dan mengisi masjid-masjid.

Masjid yang akan ditangani oleh para dai di seluruh tanah air tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah shalat, tetapi sebagai pusat kegiatan pendidikan, ekonomi, sosial budaya, informasi dunia Islam. Dengan demikian memakmurkan masjid memiliki fungsi yang sangat luas.

Pendirian Sekolah Terpadu, TPA/TPQ, perpustakaan multi media (al-Maktabah Asy-Syamilah), pembinaan remaja masjid, koperasi, poliklinik, unit penggalian dana dan pendistribusiannya, konsultasi, bantuan hukum, bursa tenaga kerja, sekolah, kantor, warnet, atau bank syariat adalah pengembangan dari  fungsi penting sistem manajemen masjid. Mari kita kembali ke masjid, semoga di dalamnya kita menemukan kedamaian, kesejahteraan, persaudaraan yang hakiki yang selama ini kita dambakan.Juga menyelesaikan persoalan sosial diantara kita semua. Wallahu a’lam.


Field Trip SD1 & 2

June 5, 2010

Pembelajaran pada anak didik seharusnya memang bukan hanya di kelas saja. anak-anak perlu diajak berkunjung langsung pada tempat yang unik dan memiliki nilai pembelajaran yang tinggi. Salahsatunya di Kandank Jurank Doank. Pada Kamis, 27 Mei lalu, SD1 dan SD2 melakukan FieldTrip (kunjungan) ke tempat itu. Di tempat itu,  Kelas 1 dan 2 SDIT Insan Mandiri dapat mengembangkan life skill mereka. Dengan suasananya yang asri, natural dan ramah, murid-murid diajak berpadu dengan alam untuk mencintai dan ikut melestarikan lingkungan.

Ketika masuk arena tersebut, terdapat banyak kandang-kandang burung, anehnya kandang tersebut satupun tak berisi burung. Burung-burung dibiarkan diluar kandang, terbang bebas diantara pepohonan. Sungguh tempat yang bersahabat.

Di tempat itu, anak diajak mengembangkan lifeskill mereka, bermain bersama, uji nyali keberanian, dan segudang motivasi berprestasi untuk anak-anak. Mereka diajak pula menanam padi, menangkap ikan dikubangan hingga menyusuri sungai kecil dengan perahu karet yang diplesetkan menjadi perahu kampret’.

Puncaknya adalah mereka melakukan outbound dengan naik jaring laba-laba dan flying fox setinggi 15 m dengan panjang tali sekitar 100 m. Sungguh mendebarkan. Wah…wah mengasyikkan ya…!


Liputan Pekan Budaya SDIT Insan Mandiri Jakarta

June 5, 2010
Aksi Drama Murid SD 5 'Persaingan Warung Mpok Fatimah'

Satu lagi kegiatan yang unik dilakukan oleh warga sekolah SDIT Insan Mandiri. ‘Gawean’ tersebut bernama Pekan Budaya. Ya, Rabu-Kamis, 26-27 Mei lalu SDIT Insan Mandiri mengapresiasikan berbagai potensi murid selama tahun pembelajaran berjalan. Selama 2 hari tersebut para murid menunjukkan kebolehannya di hadapan seluruh murid, orang tua murid, guru dan para tamu yang datang.

Salahsatunya Ja’far. Melalui kemampuannya membuat presentasi Powerpoint dengan animasi yang ‘wah’ dan dipresentasikan dengan Bahasa Inggeris yang fasih, mampu memukau penonton. Lain halnya dengan Fina, murid kelas IV Hamzah ini selain mampu menunjukkan bakatnya dengan ilmu beladiri dari China, ia juga meraih juara I lomba cepat menyusun rubik semua sisi. Subhanallah, hanya dengan kurang dari satu menit, rubik yang telah teracak disusun rapi sesuai warna masing-masing.

Atraksi panggung lainnya adalah drama, pertunjukkan beladiri taekwondo, aksi Dokter Kecil Sekolah ( Dokter Kids), English performance, Tarian (gerak dan lagu), dan pertunjukkan heboh lainnya yang dikemas dengan gaya lucu dan kreatif para murid.

Di beberapa ruangan lainnya, dipertunjukkan hasil karya murid yang sangat indah dan kreatif, membuat guru SMP Negeri 41 yang turut berkunjung berdecak kagum. Berikut foto-fotonya:

Wah, di Stand SD 1 selain ruangan laksana di ruang angkasa, disediakan pula Kreatifitas membuat makhluk planet.

Maket danau karya SD 4

Ja'far, Bagir dan Dhimas mempresentasikan dalam Bahasa Inggeris Powerpoint buatan mereka.

Maket Gedung Hasil karya murid SD4

Gerak Tari SD 2

Aksi Ananda Ammar SD2...Ciiaaat!..

Aksi Drama Murid SD 5 'Persaingan Warung Mpok Fatimah'


Read More Posts in berita sekolah

 
Layanan ini diselenggarakan oleh TELKOM SOLUTION untuk dunia pendidikan di Indonesia. Mari kita majukan
bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna pada dunia pendidikan Indonesia.